Rencana Penetapan Tanggal 1 Muharram sebagai Hari Jadi Kota Cirebon

0
106

CIREBON awut-awutan Hari jadi Kota Cirebon, Jawa Barat terbilang unik. Sebab, dalam Indonesia hanya Kota Cirebon selalu yang menjadikan tanggal 1 Muharram sebagai tanggal hari jadinya. Saat ini, Kamis (20/8/2020) atau bertepatan dengan 1 Muharram 1442 Hijriyah, Kota Cirebon, Jawa Barat lengkap berusia 651 tahun.

Berdasarkan informasi yang dirangkum Okezone dari berbagai sumber, penetapan tanggal 1 Muharram sebagai hari jadi Kota Cirebon mengacu di dalam Perda 24/1996 Tentang Hari Jadi Kota Cirebon. Dalam Perda tersebut, peristiwa pembukaan pedukuhan Cirebon yang tercatat pada tanggal 1 Muharam 791 Hijriyah ditetapkan sebagai awal mula berdirinya Kota Cirebon.

Bila dibandingkan dengan kota atau kabupaten di Indonesia, hanya Kota Cirebon yang menggunakan penanggalan Hijriyah untuk menghitung keadaan jadinya. Sehingga, hari jadi Tanah air Cirebon akan selalu dirayakan di setiap tanggal 1 Muharram.

Budayawan sekaligus Ketua Lembaga Kesenian Kota Cirebon, Akbarudin Sucipto menjelaskan, tanggal 1 Muharram berangkat ditetapkan sebagai hari jadi Praja Cirebon sejak tahun 1970-an. Kurun itu, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Cirebon berinisiatif memproduksi payung hukum atau peraturan daerah untuk menetapkan hari jadi Kota Cirebon.

Menurutnya, sumber primer yang dijadikan sebagai rujukan DPRD Kota Cirebon untuk menetapkan tanggal 1 Muharram sebagai hari jadi Kota Cirebon, adalah catatan-catatan yang ditulis sebab Pangeran Suleman Sulendraningrat.

“Naskah yang dijadikan sebagai sumber rujukan untuk membaca Cirebon masa lalu itu, dari koleksi naskah Kaprabonan, yang saat itu tahun 70-an ada Lembaga Kebudayaan Cirebon, ketuanya Pangeran Lukman, wafat, kemudian diteruskan oleh sekertarisnya Tengku Suleman Sulendraningrat, ” kata Akbar kepada Okezone , Kamis (20/8/2020).

Akbar melanjutkan, naskah yang ditulis oleh Pangeran Suleman Sulendraningrat lalu dijadikan sebagai rujukan dasar pembuatan Perda itu. Kendati demikian, ia menyebut kalau naskah itu memang tidak relevan bila dijadikan sebagai sumber primer penetapan hari maka Kota Cirebon.

“Ketika yang dipakai rujukan merupakan naskah Babad milik Pangeran Suleman Sulendraningrat, ketika dikonversi antara tahun Saka, Masehi, dan sebagainya ternyata ada selisih tahunnya. Ada kelainan tahun antara Masehi dan Hijriyah, ” ujar Akbar.