Ombudsman RI Sebut Rapid Test Covid-19 Berbayar Resahkan Masyarakat

0
155

JAKARTA – Biayanya rapid tes Covid-19 berkisar kurun Rp300 ribu hingga Rp1 juta per orang, membuat keresahan warga. Namun, di sisi lain, tes tersebut menjadi salah satu kondisi wajib bagi mereka yang hendak bepergian ke luar daerah.

Sementara itu, negeri baru-baru ini telah menaikkan anggaran penanganan Covid-19. Dari semula alokasi dananya sebesar Rp405, 1 triliun, kini jumlahnya ditambah lagi menjadi Rp695, 2 triliun.

Menurut anggota Ombudsman RI Laode Ida, ada tiga penyebab kenapa bangsa mulai menyoalkan metode rapid test berbayar.

“Pertama, prosedur birokratis dan memakan zaman sehingga menunggu lama untuk proses tesnya mulai dari daftar hingga hasilnya, ” ungkapnya saat dihubungi Sindonews. com, Seniin (22/6/2020).

 

Selain itu, Laode menilai ongkos yang harus dikeluarkan untuk sekali melakukan uji cepat tersebut cukup mahal. Hal itu menurutnya akan menyulitkan masyarakat yang begitu terdampak di masa pandemi.

“Biaya capai Rp300 ribu hingga sejuta. Itu pun tergantung dari tempatnya di mana tempat melakukan rapid test itu. Itu tidak murah bagi masyarakat ijmal. Jangan bandingkan dengan ‘kantong’ mereka yang berpunya, kalangan pejabat atau perjalanan dinas dengan biaya pemerintah, ” terang dia.

Persoalan berikutnya, lanjut Laode, masa berlakunya tes itu hanya untuk satu kali perjalanan. Misalnya, sekali melakukan penerbangan ke luar kota, maka harus melakukan rapid test lagi pada saat pulih.

Belum lagi, hasil uji cepat itu tidak menjamin bahwa orang tersebut tetap negatif Covid-19 dan tidak akan terkena selama melakukan perjalanannya. Karena itu dirinya mengaku heran kalau rapid test itu menjadi suatu kesibukan.

“Warga dengan kerap mengurus administrasi untuk penjelajahan luar kota harus direpotkan dengan jangka waktu rapid test dengan berlaku hanya tiga hari. Makanya ini sebetulnya aneh kalau lalu rapid test yang hasilnya negatif itu merupakan suatu kewajiban, ” pungkasnya.

(wal)

Loading…