Mengenang Arif Yoshizumi, Intel Jepang Binaan Tan Malaka

0
59

BESAR jam terlibat buah cukup serius, Tomegoro Yoshizumi, seorang intel militer Jepang, sontak takjub. Begitu juga dengan Shigetada Nishijima, koleganya. Saat itu akhir Agustus 1945. Proklamasi kemerdekaan belum periode dikumandangkan Dwi Tunggal Soekarno-Hatta pada Jalan Pegangsaan Timur.

Malam itu mereka pada rumah Ahmad Subardjo, di Ustaz Cikini Raya 82 Menteng, Jakarta Pusat. Yoshizumi yang sama pegari sebagai tamu, merasa takjub dengan wawasan sekaligus ketajaman berfikir tamu Ahmad Subardjo. Tamu yang sepintas bernampilan mirip seorang petani.

Pikirnya, mustahil seorang petani fasih bicara tentang Marxisme. Fasih bicara strategi gerakan massa, ajakan, peperangan, isu politik internasional, dan cakap berbicara dalam bahasa Belanda. “Onkruid vergaat toch niet” (alang tak dapat musnah kalau tidak dicabut sampai ke akar akarnya), kata si tamu.

Yoshizumi adalah Kepala Intelejen Kaigun Bukanfu. Yakni Kantor Penghubung Angkatan Laut Jepang di Jakarta. Sedangkan Nishijima adalah tangan kanan Laksamana Muda Tadashi Maeda. Laksamana Muda Maeda yang rumahnya dijadikan tempat menyusun teks proklamasi tersebut, merupakan pimpinan Kaigun Bukanfu.

“Ini ialah Tan Malaka yang asli, ” kata Ahmad Subardjo memperkenalkan tamunya seperti ditulis sejarawan Wenri Wanhar dalam Jejak Intel Jepang, Sejarah Pembelotan Tomegoro Yoshizumi. Kedua karakter petinggi intelejen Jepang itu seketika tercengang.

Tan Malaka, nama yang sering didengar, namun baru sekali itu keduanya bertatap muka langsung. Tokoh pergerakan yang banyak diburu penguasa kolonial dan kerap dikabarkan tewas di pertempuran. Yoshizumi dan Nishijima langsung mengulurkan tangan, menjabat tangan Tan dengan hangat.

Baca Juga:   Kabar Baik, Pokok dan Bayi Berusia 5 Kamar Sembuh Covid -19

Dalam pesan Shigetada Nishijima, Shogen Indonesia Dokuritsu Kakumei, Nishijima sempat bergumam, “Betapa indahnya menjadi seorang revolusioner”.

Pembicaraan malam itu mengalir lebih hangat. Mereka berempat bicara apa saja. Tentang kebebasan Indonesia. Tentang kekalahan Jepang pada Perang Dunia II. Di hadapan Tan Malaka, Yoshizumi dan Nishijima tidak mampu menyembunyikan kekagumannya.

Malam semakin larut. Sebelum pamit, kedua orang petinggi telik sandi Jepang itu meminta Tan Malaka membaiatnya menjadi seorang Indonesia. Dalam Jejak Intel Jepang, Kisah Pembelotan Tomegoro Yoshizumi, Ahli tarikh Wenri Wanhar menulis, Tan Malaka memberi nama Indonesia Nishijima, Ketua yang berarti keadilan. Sedangkan Yoshizumi diberi nama Arif yang berarti bijaksana atau ilmiah.