Membiasakan dari Flu Spanyol, Doni Monardo Tak Ingin Covid-19 Dianggap Persekutuan

0
109

JAKARTA – Kepala Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Letjen Doni Monardo meminta semua pihak untuk ikut serta berpartisipasi mengikhtiarkan Covid-19. Doni pun mengungkapkan dia tidak ingin mendengar masyarakat memandang bahwa Covid-19 adalah rekayasa maupun konspirasi.

“Upaya kita adalah 5 bulan ini atau kurang dari 5 bulan untuk betul-betul melakukan berbagai macam langkah. Kita tidak ingin lagi mendengarkan masih ada masyarakat yang tidak patuh, masih ada masyarakat yang menganggap Covid rekayasa, Covid konspirasi, yang masih mengambil paksa jenazah padahal sudah diputuskan oleh laboratorium sebagai korban Covid, tentu Covid, ” tegas Doni secara virtual, Minggu (9/8/2020).

Doni meminta seluruh tokoh asosiasi melakukan pendekatan kepada masyarakat buat melakukan edukasi sebagai upaya mencegah terpapar Covid-19. “Tentunya perlu pendekatan-pendekatan yang tepat melalui tokoh-tokoh pegangan di daerah. Demikian juga langkah-langkah pelibatan budayawan, antropolog, sosiolog kita harapkan juga bisa optimal dalam seluruh daerah, ” ujarnya.

Baca Juga:     Ibu hingga Anak-Anak Bisa Digerakkan Kampanye Protokol Kesehatan

Masyarakat Indonesia harus belajar di sejarah bahwa pandemi akibat virus yang dikenal flu Spanyol sudah terjadi pada tahun 1918 berarakan. “Kita semua harus belajar selalu dari sejarah ternyata kasus itu dengan nama lain dulu merupakan flu Spanyol telah pernah terjadi di wilayah nusantara yang masa itu masih dikuasai oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda, ” katanya.

“Korban jiwanya menyentuh hampir 4 juta orang paling banyak itu di Pulau Jawa karena penduduknya sangat banyak 4 juta jiwa. Korban jiwa berlaku karena kasus flu Spanyol dalam periode bulan Maret 1918 datang dengan periode September 1919, ” kata Doni.

Menurut Doni, upaya yang dilakukan oleh pemerintah Hindia-Belanda waktu itu sebagai upaya untuk sosialisasi merupakan dengan wayang. “Salah satu cara yang dilakukan Belanda yaitu secara menggunakan kearifan lokal memanfaatkan tunggal untuk program sosialisasi, ” tuturnya.

Saat itu, sosialisasi mengenai Covid-19 kata Doni haru menyesuaikan zaman salah satunya melalui media sosial. “Nah, hari ini tentu kita harus menyesuaikan program sosialisasi yang paling penuh diminati masyarakat lewat apa mampu lewat televisi, radio dan jalan sosial, lewat Instagram, lewat YouTube, lewat Facebook, apa saja harus kita lakukan, ” ujarnya.

“Dari udara, sebab darat, dari fisik dan kita harus juga menggalakkan program di setiap hari setiap orang harus sanggup mengajak orang-orang di sekitarnya untuk patuh kepada protokol kesehatan, ” jelas Doni.

Menangkap Juga:     Ketua Satgas Covid-19: Kesadaran Masyarakat Pakai Kedok Kurang dari 50%

Doni mengatakan sosialisasi juga bisa dilakukan sebagaimana dulu ada empat sehat lima sempurna. “Mari kita transformasikan empat sehat lima ideal jaman dulu ke dalam kehidupan kita hari ini selama masih terjadi wabah Covid, ” katanya.

“Pertama memakai masker, yang kedua jaga jarak, yang ketiga mencuci tangan. Dengan keempat olahraga teratur, istirahat dengan cukup tidak boleh panik, sebab panik bisa menimbulkan imunitas awak berkurang atau menurun sehingga terpapar Covid. Dan yang terakhir dengan kelima adalah memakan-makanan yang bergizi dan sehat, ” ajak Doni.

(Ari)

Loading…