136 Dokter Meninggal, PB IDI: Orang-Orang Masih Sulit Percaya Covid-19

0
67

JAKARTA – Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Nusantara (PB IDI) mencatat per keadaan ini, Kamis (15/10/2020) dokter dengan meninggal dunia akibat terpapar Covid-19 sudah mencapai angka 136 orang.

Oleh karenanya, Tim Mitigasi PB IDI menodong agar masyarakat dan pemerintah bekerjasama dalam melaksanakan protokol kesehatan yang ketat.

Wakil Kepala Tim Mitigasi PB IDI Ari Kusuma Januarto, mengatakan, dengan adanya kerjasama yang baik dalam menerapkan protokol kesehatan, maka tenaga medis dan tenaga kesehatan dapat melaksanakan tugasnya secara maksimal.

“Harus ada kerjasama kelengkapan baik dari Pemerintah dan asosiasi dalam melaksanakan protokol kesehatan sehingga para tenaga medis dan gaya kesehatan dapat melanjutkan pekerjaan penting mereka tanpa mempertaruhkan nyawa itu sendiri, ” kata Ari pada keterangan video yang diterima dalam Jakarta, Kamis.

Lebih lanjut dia menuturkan, tingginya angka kematian dokter ialah masa-masa krisis bagi pelayanan kesehatan tubuh di Indonesia pada saat itu. Menurutnya, setiap tenaga medis & tenaga kesehatan memiliki hak untuk merasa aman di tempat kerjanya.

Dia menyuarakan, bukan hanya masyarakat saja yang menginginkan agar pandemi ini segera berakhir, tetapi, tenaga medis serta tenaga kesehatan juga menginkan kejadian yang sama. Pandemi Covid-19, sambung Selaput, tidak dapat berakhir hika masyarakat sebagai garda terdepan tidak mampu diajak melakukan kerjasama dalam mengindahkan protokol kesehatan.

“Tidak hanya umum, namun Kami juga menginginkan pandemi ini cepat berlalu. Situasi itu tidak akan pernah selesai jikalau tidak ada kerjasama penuh dibanding masyarakat sebagai garda terdepan. ” ucapnya.

Di kesempatan yang sama, Ketua Tim Pedoman dan Protokol Kesehatan Awak Mitigasi PB IDI, Eka Ginanjar menyebut, masih banyak masyarakat dengan terlihat setengah hati dalam melayani protokol kesehatan. Mulai dari secara memasang masker di bawah dagu, berkumpul tanpa mengenakan masker, had abai berganti pakaian sehabis beraktivitas di luar rumah.

“Saat ini yang kudu diwaspadai adalah orang yang terinfeksi Covid-19 tetapi tidak bergejala atau hanya bergejala ringan, orang dengan merasa baik-baik saja padahal sebenarnya membawa virus ini, biasanya belum pernah melakukan Testing Covid-19, lalu melakukan aktivitas di luar rumah dengan mengabaikan protokol kesehatan, ” tuturnya.

Tatkala itu, kata Eka, bagi karakter yang mengalami gejala seperti flu, walaupun hanya ringan, jangan meremehkan hal tersebut. Dia mengimbau supaya mereka yang mengalami gejala laksana itu untuk mengindari keluar vila ataupun berkumpul dan segera lakukan testing.

“Dalam banyak hal, orang-orang masih sulit mempercayai keberadaan Covid-19 saat tersebut, ” ucapnya.

Dia menjelaskan, meskipun sebagian luhur tanpa gejala atau gejala ringan, tetapi ketika menginfeksi tubuh, Covid-19 bisa menimbulkan reaksi badai peradangan dan pada akhirnya bisa melahirkan kondisi berat hingga kematian. Menurutnya, virus ini tidak bisa mencatat sendiri, tetapi manusia sebagai pembawanya.

“Hingga vaksin yang efektif dan aman terlihat, maka tidak ada pencegahan yang lebih baik daripada protokol kesehatan, ” katanya.

(kha)